PPh Final dan PPh Tidak Final sama-sama berkaitan dengan pajak penghasilan. Namun, cara memperlakukan keduanya setelah pajak dipotong atau dibayarkan ternyata berbeda.
Bagi HR, finance, maupun pemilik usaha, perbedaan ini penting dipahami karena dapat memengaruhi pencatatan, penghitungan, hingga pelaporan pajak perusahaan. Jangan sampai pajak sudah dipotong, tetapi masih salah dalam menentukan bagaimana penghasilan tersebut harus diperlakukan.
Apa Itu PPh Final?
PPh Final merupakan pajak penghasilan yang pelunasannya dianggap selesai ketika pajak tersebut telah dipotong atau dibayarkan sesuai ketentuan.
Artinya, penghasilan yang dikenakan PPh Final tidak digabungkan kembali dengan penghasilan yang menggunakan mekanisme tarif umum untuk menghitung pajak atas penghasilan tersebut pada tahap berikutnya.
Meski demikian, penghasilan yang dikenakan PPh Final tetap perlu dilaporkan dalam SPT Tahunan. Bedanya, penghasilan tersebut tidak dihitung ulang untuk menentukan pajak terutang dengan mekanisme umum.
Apa Itu PPh Tidak Final?
PPh Tidak Final memiliki mekanisme yang berbeda. Pajak yang telah dipotong atau dibayarkan belum otomatis menyelesaikan seluruh kewajiban pajak atas penghasilan tersebut.
Penghasilan tersebut masih diperhitungkan bersama penghasilan lain dalam penghitungan pajak sesuai ketentuan yang berlaku. Pajak yang sebelumnya telah dipotong juga dapat menjadi kredit pajak apabila memenuhi persyaratan.
Sederhananya, PPh Final selesai pada tahap pengenaan pajaknya, sedangkan PPh Tidak Final masih diperhitungkan dalam penghitungan pajak berikutnya.
Perbedaan PPh Final dan PPh Tidak Final
Ada beberapa hal yang membedakan keduanya:
| Aspek | PPh Final | PPh Tidak Final |
|---|---|---|
| Perlakuan penghasilan | Tidak dihitung kembali dengan tarif umum | Diperhitungkan dalam penghitungan pajak |
| Bukti potong | Umumnya tidak menjadi kredit pajak | Dapat menjadi kredit pajak sesuai ketentuan |
| Biaya terkait penghasilan | Tidak menjadi pengurang dalam mekanisme PPh Final | Dapat diperhitungkan sesuai ketentuan |
| Pelaporan | Tetap dilaporkan dalam SPT | Diperhitungkan dalam pelaporan pajak |
Perbedaan ini menunjukkan bahwa istilah “final” bukan sekadar nama. Status tersebut menentukan bagaimana penghasilan dan pajaknya diperlakukan dalam administrasi perpajakan.
Contoh Objek PPh Final
Beberapa jenis penghasilan yang termasuk objek PPh Final antara lain:
- Bunga deposito dan tabungan tertentu.
- Hadiah undian.
- Penghasilan dari persewaan tanah dan/atau bangunan.
- Penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan.
- Penghasilan dari usaha jasa konstruksi.
- Penghasilan tertentu dari transaksi saham dan sekuritas.
- Penghasilan tertentu dari obligasi.
Jenis objek dan tarifnya tetap perlu disesuaikan dengan ketentuan perpajakan yang berlaku karena tidak semua transaksi dalam kategori yang sama otomatis mendapatkan perlakuan pajak yang identik.
Contoh Objek PPh Tidak Final
Sementara itu, beberapa contoh penghasilan yang dapat masuk dalam pengenaan PPh Tidak Final meliputi:
- Penghasilan dari pekerjaan atau jasa.
- Laba usaha.
- Keuntungan dari penjualan atau pengalihan harta.
- Royalti.
- Dividen dalam kondisi tertentu.
- Penghasilan dari penggunaan harta tertentu.
- Bunga tertentu yang tidak termasuk objek PPh Final.
Dalam praktiknya, satu perusahaan bahkan dapat memiliki penghasilan yang terkena PPh Final sekaligus penghasilan yang dikenakan PPh Tidak Final. Jadi, penentuan jenis PPh perlu dilakukan berdasarkan karakteristik masing-masing penghasilan, bukan hanya berdasarkan siapa yang menerima penghasilan.
Kenapa HR Perlu Memahami Perbedaannya?
Kesalahan membedakan PPh Final dan Tidak Final dapat membuat administrasi pajak menjadi lebih rumit. Bukti potong yang seharusnya diperhitungkan sebagai kredit pajak, misalnya, bisa saja salah dicatat sebagai pajak final.
Karena itu, perusahaan perlu memiliki pencatatan yang rapi serta dokumentasi bukti potong dan transaksi yang mudah ditelusuri.
Kelola Payroll Lebih Praktis dengan HR Desk
Administrasi pajak hanyalah salah satu bagian dari pekerjaan HR dan payroll yang membutuhkan ketelitian. Ketika jumlah karyawan dan komponen penghasilan semakin banyak, pengelolaan secara manual dapat membuat pekerjaan menjadi lebih berat.
HR Desk membantu perusahaan mengelola berbagai kebutuhan HR dan payroll secara lebih terstruktur dalam satu platform.
Mulai dari data karyawan, absensi, hingga proses payroll dapat dikelola lebih praktis sehingga tim HR dapat mengurangi pekerjaan administratif yang berulang.
Ingin melihat bagaimana HR Desk dapat membantu pengelolaan payroll perusahaan? Jadwalkan demo sekarang dan temukan solusi yang sesuai dengan kebutuhan bisnis Anda.








